Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Desember 2011

Niat Ketikah Menikah

Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika
memutuskan untuk menikah. Al-Idris Asy-Syafi'i menikah semata karena ingin
mendapatkan ridha dari pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia
menikah asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka
ia menikah dengan Fathimah, putri pemilik pohon delima itu. Dari rahim istrinya,
lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai Imam Syafi'i karena keutamaan
ilmu dan akhlaknya. Pernikahan Al-Idris melahirkan anak yang sangat penuh
barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh
Imam Syafi'i, buah pernikahan Al-Idris dan Fathimah yang diridhai.
Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan,
semata-mata demi mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis
shahihnya pernah meriwayatkan sebuah cerita dari Rasulullah.
"Seorang laki-laki," kata Rasulullah Saw., "membeli sebidang tanah dan
menemukan sebuah tempayan berisi emas dalam tanah itu. Katanya kepada si penjual,
'Ambillah emasmu, karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak
membeli emas'. Kata yang punya tanah, 'Tanah itu beserta isinya telah saya jual
kepada engkau'. Keduanya lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu,
'Adakah kamu berdua mempunyai anak?' Seorang di antara mereka berkata, 'Ya, saya
mempunyai seorang anak laki-laki'. Kata yang seorang lagi, 'Ya, saya mempunyai
seorang anak perempuan'. Kata hakim tadi, 'Kawinkanlah anak perempuan itu dengan
anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan
bershadaqahlah'." (HR Bukhari dalam shahihnya, hadis No. 1513).

For my life n my heart


Kamu Cantik kalo sedang marah & ngambeg
terlihat Indah jika sedang senyum
begitu Sabar di saat menyebalkan.. ..
tetap Anggun meskipun lelah….

Kamu selalu Ceria di kala menangis….
berusaha Tegar di saat-saat
duka….
Kamu adalah Kehangatan sewaktu
“sekeliling” terasa dingin….
Kamu tetap Indah setelah terbangun
dari tidurmu… .

Kamu mencoba Bijak di tengah dunia
yang sekarat… .
Kamu tetaplah kamu, meski amnesia
menimpa ingatanku… .
Hatikulah yang kan menyimpan segala
Kebaikan dari Cintamu…
Meskipun ajal ini menjemput  diriku lebih dulu
Hanya senyummu terakhir yang ingin kulihat

dan Kamu….
Sangat Istimewa untuk diriku
seumur Hidupku.. ..


For  my life n my heart “Lujjatus Saniyah”

Hati-hati Bawa Hati

Aduh,
susahnya punya hati
letaknya tersembunyi,
tapi geraknya tampak sekali
(he hemm, malu juga diri ini)
Makanya,
lebih baik punya istri
kalau tersenyum ada yang menanggapi
kalau berekspresi ada yang memahami
sikapnya lembut tak bikin keki
kadang malah memuji
"Tuhan tak pernah ingkar janji,
kalau terus menjaga diri,
akan mendapat pendamping yang lurus hati."
Tapi kalau masih sendiri,
hati-hati bawa hati
kalau sibuk mencari perhatian,
kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga
pandangan?
bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan
(maunya sih kutulis memperbaiki iman)
saat-saat tak terbayangkan
Adapun kalau sudah beristri,
jangan lupa mengingatkan
kalau ada yang dilalaikan
tentang perkara yang disyari'atkan
tapi kalau ia memelihara kewajiban
ingat-ingatlah untuk memberi perhatian
jangan menunggu dapat peringatan